Blog

World Disability day 2021, Mewujudkan Disabilitas Inklusif

Webinar Memperingati Hari Disabilitas Internasional

Pada hari jumat 3 Desember 2021 adalah hari disabilitas internasional. Sebagai salah satu langkah kepedulian, Limbcare center mengadakan webinar yang diselenggarakan melalui streaming zoom dan youtube.

Acara webinar ini didukung oleh berbagai komunitas yang fokus pada pemberdayaan dan pengembangan teman-teman disabilitas di tingkat daerah dan nasional yang membantu menyiarkan webinar ini sebagai media partner.

Acara dibuka oleh Alfin Fauzi sebagai perwakilan dari Limbcare center dengan pemaparan dan pengenalan tentang Limbcare center kepada teman-teman yang hadir menyaksikan webinar.

Setelah pengenalan tentang Limbcare center, sesi selanjutnya adalah pemutaran video inspiratif dari Stephanie Handojo yang merupakan salah satu Atlet Paralimpik Indonesia dan juga pernah menjadi salah satu Atlet Pembawa Obor pada Olimpiade London 2012.

Pada sesi selanjutnya acara webinar dipandu oleh Muji Kusnanto yang merupakan salah satu satu sosok inspiratif di acara ini. Beliau menjabat sebagai Kepala Asrama Yayasan Fofindis Indonesia.

Pembahasan selanjutnya dimulai dengan pengertian kata Inklusif sesuai dengan tema yang diangkat oleh webinar ini. Menurut Fanny Evrita selaku Staf Khusus Presiden Republik Indonesia (inclusive employment). Secara sederhana, Inklusif merupakan pemerataan pembangunan dari berbagai sektor kehidupan. 

Dengan proses pengembangan Inklusif, Fanny Evrita juga menyampaikan bahwa salah satu fokus Pemerintah adalah pengembangan isu disabilitas menjadi lebih inklusif dan menormalisasikan para penyandang disabilitas dalam penghidupan bersosial dan bernegara.

Selanjutnya Fanny Evrita  dalam kesempatan ini juga membagikan pengalaman hidupnya sebagai salah satu penyandang disabilitas yang cukup kesulitan dalam mencari pekerjaan dimana beliau seringkali ditolak karena berbagai persyaratan fisik dan dan tata cara berpakaian.

Pembicara selanjutnya adalah dr. Lydia Arfianti SpKFR(K) Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi. Dokter Lydia juga menjelaskan sedikit tentang pekerjaannya seputar dunia Ortopedi dan pengalamannya dalam melakukan rehabilitasi pada pasien yang mengalami kemunduran fungsi tulang dan sendi akibat kecelakaan maupun bawaan sejak lahir.

Pada masa Pandemi menjadi salah satu penghambatan untuk perawatan pasien disabilitas karena perawatan dengan pasien hanya bisa dilakukan secara virtual dan pengobatan sekaligus konsultasi melalui virtual masih dirasa kurang efektif dibanding bertemu secara tatap muka. Dibantu oleh Himpunan Perhimpunan Dokter Saraf Indonesia (PERDOSSI), Dokter Lydia juga memaparkan tentang proses perawatan para pasien-pasien khususnya pasien disabilitas yang mengalami masalah kesehatan saraf.

Untuk selanjutnya Dokter Lydia juga memaparkan tentang masalah kesehatan yang berkaitan dari disfungsi tulang dan otot yang jarang dilatih pada para pasien disabilitas. Dokter Lydia juga menghimbau untuk tetap aktif bergerak bagi para penyandang disabilitas meskipun di masa pandemi dan keterbatasan fisik.

Kemudian Dokter Lydia juga menyampaikan bahwa semua emosi apapun yang kita rasakan harus diakui dan meminta kepada orang-orang sekitar untuk menjadi support system dan penyemangat bagi teman-teman disabilitas agar tetap terus optimis dalam menjalani hidup.

Selanjutnya pembicara dilanjutkan oleh Yuni Widyawati selaku Pendiri Bumi Disabilitas yang berlokasi di Bandung Jawa Barat. Bumi Disabilitas memiliki fokus untuk membantu warga-warga yang kesulitan dalam memperoleh akte lahir dari pemerintah setempat dan juga mengembangkan jiwa kewirausahaan bagi para teman-teman penyandang disabilitas untuk dapat berperan dalam pengembangan inklusif khususnya dalam sektor ekonomi.

Menurut Yuni Widyawati selama pengalaman beliau membantu teman-teman disabilitas tidak pernah ada hubungannya antara pasangan disabilitas yang menikah dengan keturunannya.

Selain itu tujuan dari Bumi Disabilitas adalah ingin menjadikan teman-teman penyandang disabilitas sebagai teman yang baik bagi lingkungan sosial di sekitarnya. Agar saling menghormati dan saling menjaga antara sesama disabilitas ataupun dari penyandang disabilitas dengan teman-teman normal lainnya.

Untuk acara selanjutnya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara audiens dengan para pembicara. 

Apakah Peran Pemerintah dalam menjalankan pembangunan inklusif bagi penyandang disabilitas?

Melalui PP  52 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial bagi Penyandang Disabilitas, PP Nomor 70 Tahun 2019.

Apakah ada Komite disabilitas di Daerah?

Ada beberapa daerahnya seperti di Jogjakarta, Malang, Surabaya dan Bali. Tugasnya adalah mengawal dan mengawasi berjalannya PP no 52 dan PP 70 tahun 2019.

Apakah Stutter disebabkan karena Skoliosis 40 derajat?

Kemungkinan stutter itu tidak disebabkan dari Skoliosis dan harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut secara langsung.

Bagaimana caranya mengetahui kebutuhan para disabilitas dan tips mengetahui pathology agar dapat sembuh? 

Yang pasti dilakukan pemeriksaan secara langsung kepada Dokter Spesialis Patologi. Selanjutnya harus dilakukan sesi konseling untuk dapat mengetahui bagaimana caranya mengembangkan diri di tengah keterbatasan disabilitas. 

Setelah sesi tanya jawab, ada sesi sharing session yang dilakukan salah satu audien yaitu Ana Oktaviani. Beliau juga menyampaikan beberapa pengalaman hidupnya sebagai penyandang disabilitas khususnya penyandang cerebral palacy. 

Pada sesi terakhir webinar ditutup dengan pembagian hadiah kepada para 3 orang penanya terbaik dan juga kepada Ana Oktaviani atas cerita inspiratifnya. 

Link Youtube : Limbcare Center

No Comments
Post a Comment
Name
E-mail
Website

All search results
Tanyakan sekarang
Konsul dan Buat alat bantu
Konsul atau pembuatan alat